Hari Agung 31 Agustus 2025 10.28 Wib
MALANG – Masalah sampah daun kering yang biasanya hanya berakhir di tempat pembakaran atau memenuhi selokan, kini menemukan solusinya. Tim Adiwiyata bersama siswa-siswi SDN Tanjungrejo 1 menggelar aksi sosialisasi kreatif bertajuk KOMPOR DARING (Kompos Organik Daun Kering) kepada warga di lingkungan sekitar sekolah pada Jumat (29/08).
Inovasi ini memfokuskan pada pengolahan limbah organik daun kering menjadi kompos bermutu tinggi dengan cara yang praktis dan efisien.
Selama ini, warga sekitar seringkali memilih membakar daun kering karena dianggap praktis. Padahal, asapnya tidak hanya mengganggu pernapasan, tapi juga menyumbang emisi karbon.
"Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat. Daun kering itu bukan sampah yang harus dimusnahkan, tapi bahan baku yang bisa menghasilkan uang atau setidaknya menyuburkan tanaman sendiri," ujar Bagus Setiyowibowo, penggerak program ini.
Dalam sosialisasi tersebut, para siswa memperagakan langkah-langkah pembuatan KOMPOR DARING yang sangat mudah ditiru oleh warga:
Pencacahan: Daun kering dikumpulkan dan dicacah menjadi bagian kecil agar lebih cepat terurai.
Pencampuran: Daun dicampur dengan larutan bio-aktivator (seperti EM4) dan sedikit air.
Pengomposan: Masukkan ke dalam wadah tertutup (komposter) dan diamkan selama beberapa minggu.
Selain mendemonstrasikan cara pembuatan, para siswa juga membagikan sampel kompos yang sudah jadi kepada warga yang melintas untuk membuktikan bahwa kompos organik tidak berbau menyengat jika dikelola dengan benar.
Ibu Ratna, salah satu warga yang mengikuti sosialisasi, mengaku sangat terbantu. "Ternyata bikinnya gampang ya, tidak ribet. Kebetulan di halaman rumah banyak pohon mangga, biasanya cuma saya sapu lalu dibakar. Sekarang mau coba dibuat kompos saja," ungkapnya.
Dengan adanya program ini, diharapkan lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar secara akademis, tetapi juga menjadi agen perubahan lingkungan yang nyata bagi masyarakat sekitarnya.
Catatan Redaksi: Gerakan KOMPOR DARING diharapkan dapat menjadi pilot project bagi sekolah-sekolah lain untuk menekan volume sampah organik di tingkat rumah tangga.